Kamis, 17 Desember 2015

Ebook

  1. Feminism is For Everybody, klik disini untuk mengunduh.
  2. Feminisme di Iran, klik disini untuk mengunduh.
  3. Gerakan Wanita Indonesia, klik disini untuk mengunduh.
  4. Haifaa J "Aminah Wadud", klik disini untuk mengunduh.
  5. Women Leadership in Muhammadiyah, klik disini untuk mengunduh.
  6. Women Identity, klik disini untuk mengunduh.
  7. Pandangan Gender di dalam Pendidikan, klik disini untuk mengunduh.
  8. Pendeta Wanita dalam Gereja Khatolik, klik disini untuk mengunduh.
  9. Peranan Gender dalam Rumah Tangga, klik disini untuk mengunduh.
  10. Trouble gender, klik disini untuk mengunduh.
  11. Women President, klik disini untuk mengunduh.

 Deskripsi:
  1. Simply put, feminism is a movement to end sexism, sexist exploitation, and oppression. This was a definition of feminism I offered in Feminist Theory: From Margin to Center more than 10 years ago. It was my hope at the time that it would become a common definition everyone would use. I liked this definition because it did not imply that men were the enemy. By naming sexism as the problem it went directly to the heart of the matter. Practically, it is a definition which implies that all sexist thinking and action is the problem, whether those who perpetuate it are female or male, child or adult. It is also
    broad enough to include an understanding of systemic institutionalized sexism. As a definition it is open-ended. To understand feminism it implies one has to necessarily understand sexism.
  2. Gerakan perempuan di Republik Islam Iran terbilang lebih maju dibandingkan negara-negara Islam lainnya di Timur Tengah. Meski mengalami banyak hambatan mulai dari tafsir agama maupun budaya etnis serta kebijakan pemerintah, namun kenyataannya gerakan perempuan di Iran dapat tumbuh dan berkembang, bahkan muncul banyak tokoh¬tokoh perempuan Iran yang eksistensinya diakui masyarakat internasional. Tesis ini mencoba mengungkap tumbuh dan berkembangnya gerakan Perempuan di Republik. Islam Iran dan faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya gerakan Perempuan pasca revolusi Islam Iran, mulai dari tokohnya, tuntutannya, model gerakannya, dan perubahan kebijakan pemerintah yang adil terhadap perempuan.
  3. Dalam ebook ini menceritakan tentang hak wanita yang sesungguhnya, banyak buku-buku dikalangan para intelektualitas yang menjelaskan tentang kodrat dan fungsi sesungguhnya wanita yang sebenarnya, banyak jurnal-jurnal yang telah merampas hak-hak perempuan sebagai mestinya, misalnya saja dalam dunia kerja/dunia karirnya seorang wanita itu memiliki waktu jam kerja yang sebanding dengan laki-laki padahal hal itu dapat merusak kesehatan perempuan. Disisi lain juga ia harus berpakaian yang tak sesuai dengan keinginan dan ketentuan agamanya yang membuatnya merasa canggung atau kurang percaya diri, ini akan menyebabkan depresi berat yang lari kepada kematian. Berbeda dengan seorang laki-laki yang mungkin ia diposisikan dimana saja itu akan merasa nyaman dan bisa dikatakan ia akan peduli dengan keadaan ia sekarang yang selama ini tidak pernah mengganggu hak-haknya. Misalnya kita bandingkan anatara jam kerja wanita dan pria itu pria merasa biasa saja tidak ada tekanan karena menurut mereka hal yang wajar ketika mendapat jam kerja begitu padat, dan segi penampilanpun seorang pria itu tidak memiliki keterbatasan. Disinilah kita bias melkihat bahwa ketidakadilan terhadap wanita itu muncul dengan secara halus.
4.      Amina Wadud adalah seorang feminis Islamimam dan seorang feminis dengan, fokus progresif pada Al-Qur'an tafsir. Riset Amina Wadud mengenai wanita dalam Al-Qur’an muncul dalam suatu konteks historis yang erat kaitannya dengan wanita Afrika-Amerika dalam upaya memperjuangkan keadilan gender. Tujuan riset Amina Wadud adalah menentukan kriteria yang pasti untuk mengevaluasi sejauh mana posisi wanita dalam kultur muslim telah betul-betul menggambarkan maksud Islam mengenai wanita dalam masyarakat. Selain itu, tujuan spesifiknya adalah menunjukkan kemampuan penyesuaian pandangan dunia Al-Qur’an terhadap persoalan dan dunia wanita menurut konteks modern.
5.      Sejarah islam mencatat, keberhasilan para pemimpin dikalangan umat islam, khususnya ketika zaman Rasulullah SAW. Konsep kepemimpinan ini masih menjadi sebuah tanda tanya besar dikalangan umat islam sendiri, apalagi ditambah dengan, semakin hilangnya pigur-pigur, dan tokoh-tokoh yang mahir dalam kepemimpinan, perbedaan tersebut karena di pengaruhi oleh, ajaran-ajaran orng barat yang mencoba untuk mengikis habis, pemahaman asli umat islam terhadap kepemimpinan. Seiring dengan bergantinya zaman, maka bergantipulalah sistem kepemimpinan, akan tetapi bagi umat islam sistem kepemimpinana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnyalah, sistem yang paling baik dan akurat, dengan tidak mengenyampingkan sistem-sistem baru yang memang itu sejalan dengan yang dicontokan rasul, dan diajarkan didalam Al-Quran. Akan tetapi kini, banyak umat islam yang mencoba menerapkan sistem baru, yang bervariasi ragamnya, yang jelas itu tidak sejalan dengan apa yang telah dianjurkan Rasulullah SAW.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar